Pengaruh Konsep Diri terhadap Kepercayaan Diri Remaja: Skripsi Jannet Atok Sorot Kehidupan di Asrama St. Clara Waena

Jayapura, 30 Juli 2026 – Sebuah tonggak penting dalam perjalanan akademik Jannet Sisilia Atok, mahasiswi Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPK) Santo Yohanes Rasul Jayapura, telah terlewati. Pada Kamis (30/7), bertempat di Ruang B kampus setempat, Jannet berhasil mempertanggungjawabkan karya tulis akhirnya yang mengangkat isu psikologi remaja di lingkungan asrama. Ujian berlangsung pada pukul 10.00–11.00 WIT dengan suasana yang khidmat.

Di hadapan dewan penguji yang dipimpin oleh Dra. Margaretha Seveningsih, MM., selaku penguji utama, Jannet memaparkan hasil penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Konsep Diri terhadap Kepercayaan Diri Remaja di Asrama Putri St. Clara Waena.” Turut hadir sebagai penguji I, Dr. Evaristus Silitubun, SS., M.Pd., yang juga bertindak sebagai dosen pembimbing II, serta penguji II, Sr. Rotua Dominika Sinaga, S.Psi., MA., yang sekaligus merupakan dosen pembimbing I. Kehadiran kedua dosen pembimbing yang turut menguji langsung menambah kekhidmatan jalannya sidang.

Karya yang ditulis Jannet lahir dari kegelisahannya melihat realitas di Asrama St. Clara Waena. Di sana, ia menemukan bahwa tidak semua remaja putri mampu beradaptasi dengan baik. Sebagian dari mereka tampil percaya diri dan aktif dalam setiap kegiatan, sementara sebagian lainnya justru menarik diri, merasa minder, dan enggan terlibat. Dari sinilah Jannet ingin menggali lebih dalam—apakah cara mereka memandang diri sendiri (konsep diri) berpengaruh terhadap keyakinan mereka untuk tampil dan bertindak (kepercayaan diri).

Melalui pendekatan kuantitatif dan analisis regresi linear sederhana, Jannet melibatkan 72 responden dari seluruh penghuni asrama. Hasilnya cukup menarik: konsep diri terbukti memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kepercayaan diri remaja, meskipun kontribusinya terhitung kecil, yakni sebesar 4,3 persen. Temuan ini juga mengungkap bahwa 55,56 persen responden memiliki konsep diri yang tinggi, sementara 44,44 persen masih berada pada kategori rendah. Dengan kata lain, semakin positif pandangan seseorang terhadap dirinya, semakin tinggi pula rasa percaya dirinya dalam menjalani keseharian di asrama.

“Kondisi ini menurut saya penting untuk mendapat perhatian serius dari para pembina. Kepercayaan diri bukan sekadar modal sosial, tetapi juga fondasi bagi remaja untuk tumbuh sehat secara psikologis dan spiritual,” ujar Jannet saat memaparkan kesimpulan penelitiannya.

Tidak berhenti pada angka dan statistik, Jannet juga menelusuri variabel-variabel lain yang turut memengaruhi kepercayaan diri—di luar konsep diri—seperti pola asuh orang tua, dukungan sosial, dan pengaruh media sosial. Ketiganya, menurut penelitian ini, memiliki andil yang jauh lebih besar. Pola asuh misalnya, ditemukan berkontribusi hingga 24,6 persen, sementara dukungan sosial dan pengaruh media sosial masing-masing menyumbang 31,2 persen dan 32,4 persen.

Di akhir ujian, Jannet dinyatakan lulus dengan perbaikan. Kini, tanggung jawab moral pun menanti: bagaimana hasil penelitian ini bisa menjadi titik tolak bagi para pembina asrama, orang tua, dan lembaga pendidikan untuk lebih serius dalam mendampingi remaja menemukan jati diri dan kepercayaan diri yang kokoh. Sebab, di balik angka-angka itu, ada nama-nama—remaja putri yang sedang berjuang untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

 

Penulis : Evans

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *