Ujian Skripsi Irene Elisabeth Piko: Menelisik Penyesuaian Diri Mahasiswi dalam Mematuhi Aturan Asrama di St. Monica

Jayapura, 31 Juli 2026 – Sebuah tonggak penting dalam perjalanan akademik Irene Elisabeth Piko, mahasiswi Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPK) Santo Yohanes Rasul Jayapura, telah terlewati. Pada Jumat (31/7), bertempat di Ruang B kampus setempat, Irene berhasil mempertanggungjawabkan karya tulis akhirnya yang mengangkat isu psikologi mahasiswi di lingkungan asrama. Ujian berlangsung pada pukul 10.00–11.00 WIT dengan suasana yang khidmat.

 

Di hadapan dewan penguji yang dipimpin oleh Dra. Berlinda Renwarin, M.Th., selaku penguji utama , Irene memaparkan hasil penelitiannya yang berjudul “Penyesuaian Diri Mahasiswa dalam Mematuhi Aturan Asrama di Asrama Putri St. Monica Waena Jayapura.” Turut hadir sebagai penguji I, Dra. Margaretha Seveningsih, MM., yang juga bertindak sebagai dosen pembimbing II, serta penguji II, Rotua Dominika Sinaga, S.Psi., MA., yang sekaligus merupakan dosen pembimbing I. Kehadiran kedua dosen pembimbing yang turut menguji langsung menambah kekhidmatan jalannya sidang.

 

Karya yang ditulis Irene lahir dari kegelisahannya melihat realitas di Asrama Putri St. Monica, Waena, Jayapura. Di sana, ia menemukan bahwa tidak semua mahasiswi mampu beradaptasi dengan baik. Sebagian dari mereka berhasil mematuhi aturan dan aktif dalam setiap kegiatan, sementara sebagian lainnya justru kesulitan menyesuaikan diri, sering melanggar aturan, dan bahkan memutuskan untuk meninggalkan asrama. Dari sinilah Irene ingin menggali lebih dalam—bagaimana pemahaman mereka tentang penyesuaian diri, faktor-faktor apa yang memengaruhinya, dan bagaimana aspek-aspek penyesuaian diri terwujud dalam kehidupan sehari-hari di asrama.

Melalui pendekatan kualitatif deskriptif dan observasi partisipatif serta wawancara mendalam dengan pembina asrama dan delapan mahasiswi, Irene berhasil mengungkap sejumlah temuan menarik. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa mahasiswi memiliki pemahaman yang baik tentang penyesuaian diri, memaknainya sebagai proses perubahan perilaku dan kebiasaan dari lingkungan rumah ke lingkungan asrama, serta memandang aturan bukan sebagai beban, melainkan pedoman yang membantu proses adaptasi.

Penelitian ini juga menemukan tiga faktor utama yang saling berkaitan dalam memengaruhi penyesuaian diri mahasiswi. Faktor kondisi fisik dan psikis, seperti sakit, stres, atau trauma, terbukti menghambat kemampuan mereka dalam mengikuti aturan. Faktor lingkungan keluarga dan sosial juga memegang peranan penting; pola asuh yang teratur dan kemandirian yang ditanamkan orang tua sejak kecil mempermudah penyesuaian diri, sementara kurangnya pendampingan orang tua dapat menjadi penghambat. Adapun faktor pengalaman tinggal jauh dari orang tua atau di asrama sebelumnya terbukti membantu, meskipun perannya tidak mutlak dan harus diimbangi dengan niat serta usaha pribadi.

Lebih lanjut, aspek-aspek penyesuaian diri yang tampak meliputi kemampuan menerima diri sendiri, kemampuan individu menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan kesediaan lingkungan (pembina dan aturan) untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan mahasiswi. Sebagian mahasiswi telah menunjukkan kemajuan dalam mengubah perilaku sesuai aturan, sementara beberapa lainnya masih dalam proses, terutama pada aturan-aturan teknis seperti bangun pagi dan jam masuk asrama. Temuan ini juga mengungkap pentingnya fleksibilitas aturan dan keterlibatan mahasiswi dalam pengambilan keputusan untuk menghindari persepsi ketidakadilan.

“Penyesuaian diri yang baik sangat menentukan keberhasilan mahasiswi dalam menjalani kehidupan berasrama. Kemampuan ini bukan hanya soal mematuhi aturan, tetapi juga tentang bagaimana mereka membangun relasi, mengelola emosi, dan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab,” ujar Irene saat memaparkan kesimpulan penelitiannya.

Di akhir ujian, Irene dinyatakan lulus dengan perbaikan. Kini, tanggung jawab moral pun menanti: bagaimana hasil penelitian ini bisa menjadi titik tolak bagi para pembina asrama, orang tua, dan lembaga pendidikan untuk lebih serius dalam mendampingi mahasiswi menemukan jati diri dan kemampuan beradaptasi yang kokoh. Sebab, di balik data dan analisis itu, ada nama-nama—mahasiswi yang sedang berjuang untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri di tengah kompleksitas kehidupan bersama.

 

Penulis : Evans

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *